Rupiah Menguat Menjadi Rp 17.590 Pasca Rilis Cadangan Devisa Agustus 2026 dan Ancaman Iran di Teluk

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan kecenderungan penguatan dalam perdagangan yang berlangsung hari ini.
Berdasarkan informasi dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat pada posisi Rp 17.618 per 8 September 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 35 poin dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada di level Rp 17.653 pada 7 September 2026.
Sementara itu, transaksi di pasar spot pada 9 September 2026 hingga pukul 09.00 WIB menunjukkan rupiah diperdagangkan pada angka Rp 17.590 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan penguatan sebesar 42 poin atau 0,24 persen dari nilai sebelumnya, yang tercatat pada Rp 17.632 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi dan pasar uang, mengungkapkan bahwa Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, mengalami kenaikan dibandingkan dengan posisi di akhir Juli 2026 yang tercatat sebesar US$145,3 miliar.
Kenaikan yang terjadi pada cadangan devisa ini, menurut BI, terutama disebabkan oleh penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri oleh pemerintah, serta upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan oleh BI sebagai respons terhadap ketidakpastian yang masih tinggi di pasar keuangan global.
Cadangan devisa yang tercatat pada akhir Agustus 2026 setara dengan pembiayaan untuk 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini juga berada di atas standar kecukupan internasional yang biasanya berkisar pada tiga bulan impor.
Kondisi cadangan devisa yang solid ini berperan penting dalam mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia.
Ke depan, BI yakin bahwa ketahanan sektor eksternal Indonesia akan tetap terjaga. Keyakinan ini didasarkan pada posisi cadangan devisa yang memadai, serta potensi aliran masuk modal asing yang diperkirakan akan terus bertambah.
Sebagaimana dinyatakan oleh BI, persepsi positif dari para investor terhadap prospek ekonomi nasional serta imbal hasil investasi yang tetap menarik menjadi faktor pendorong bagi aliran modal asing ke Indonesia.
Meskipun mata uang rupiah menunjukkan fluktuasi, saat ini ditutup dengan rentang melemah di antara Rp 17.630 hingga Rp 17.670.
Dalam konteks yang lebih luas, pejabat Iran telah mengeluarkan peringatan bahwa infrastruktur minyak dan gas di seluruh wilayah Teluk bisa menjadi target balasan atas serangan yang ditujukan terhadap aset-aset mereka.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan, “Rantai produksi minyak dan gas di wilayah ini sangat luas, mudah diakses, dan rentan. Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika yang beroperasi di perairan dan fasilitas ini juga menghadapi risiko kerentanan yang serupa.”
➡️ Baca Juga: Kolombia Mengalami Kerugian Gempa yang Mencapai Rp 133 Triliun
➡️ Baca Juga: Iran Menginformasikan Kondisi Mojtaba Khamenei, Terluka Namun Dalam Keadaan Stabil




