Tingkatkan Rehabilitasi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati di Wilayah Operasional WBN

Jakarta – Sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan, PT Weda Bay Nickel (WBN) terus mengintensifkan pemantauan terhadap keanekaragaman hayati di area operasionalnya yang terletak di Halmahera, Maluku Utara.
Senior Rehabilitation Superintendent Weda Bay Nickel, Fitri Rahmadani Ritonga, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa flora, fauna, dan kondisi ekosistem dapat dipantau secara teratur. Hal ini menjadi dasar untuk pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
“Pemantauan ini bukan sekadar formalitas atau untuk memenuhi kewajiban, melainkan juga untuk menyediakan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan mengenai pengelolaan dan pengembangan di masa mendatang,” ungkap Fitri dalam keterangan persnya pada Selasa, 15 September 2026.
Dia menambahkan bahwa saat melakukan pemantauan, jika diperoleh data mengenai area dengan nilai biodiversitas yang lebih tinggi, informasi tersebut akan menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan program keanekaragaman hayati yang akan datang.
“Data ini juga menjadi acuan dalam pengelolaan lingkungan yang dituangkan dalam dokumen Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Weda Bay Nickel,” lanjutnya.
Fitri menekankan bahwa komitmen ini direfleksikan dalam Kebijakan Keanekaragaman Hayati, yang berfungsi sebagai pijakan bagi WBN dalam menerapkan operasional yang berkelanjutan, termasuk perlindungan lingkungan, reklamasi lahan, restorasi habitat, pengelolaan keanekaragaman hayati, serta pemenuhan terhadap regulasi lingkungan yang berlaku.
Pemantauan dilakukan dengan menggabungkan observasi langsung dan teknik penggunaan camera trap. Dalam Rencana Aksi dan Strategi Keanekaragaman Hayati, WBN melakukan pemantauan secara rutin dengan frekuensi mingguan di area yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi.
Proses pemantauan juga diperkuat dengan kajian jangka panjang. Identifikasi spesies di wilayah proyek dilakukan pada rentang waktu 2001-2008, kemudian dilanjutkan dengan survei dari tahun 2010 hingga 2014.
“Kajian tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman hayati, menyediakan data spesies flora yang diperlukan untuk mendukung reklamasi lahan, serta mengidentifikasi komponen flora yang memiliki nilai ekonomi dan ekologis,” jelasnya.
Upaya penguatan pemantauan juga dilakukan melalui kolaborasi dengan Universitas Khairun. Peneliti dan Dosen Universitas Khairun, M. Natsir Tamalene, menyatakan bahwa pemantauan flora dan fauna yang dilakukan bersama WBN telah berlangsung selama sekitar empat tahun. Jumlah titik pemantauan bahkan meningkat dari enam titik menjadi 40 titik.
“Halmahera terletak di kawasan Wallacea, yang merupakan wilayah peralihan dengan tingkat endemisitas tinggi serta distribusi beberapa spesies yang terbatas secara geografis,” tambah Natsir.
➡️ Baca Juga: NYC Tingkatkan Inspeksi Menara Pendingin untuk Mencegah Penyebaran Legionnaires
➡️ Baca Juga: Sekjen ASEAN Dorong Penerapan Rule of Law untuk Stabilitas Ekonomi Kawasan




