Menlu Iran Jelaskan Memorandum Islamabad kepada Trump Terkait Gencatan Senjata

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, Teheran belum mengambil keputusan untuk melanjutkan perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS).
Dia menekankan bahwa komunikasi yang dilakukan melalui mediator tidak boleh diartikan sebagai tanda dimulainya kembali proses perundingan.
Dalam wawancaranya dengan kantor berita Iran, ISNA, Araghchi juga membantah laporan yang menyatakan bahwa gencatan senjata yang berlangsung selama 60 hari perlu diperpanjang.
Gencatan senjata tersebut berlandaskan pada memorandum Islamabad, yang merupakan kerangka kesepakatan damai dengan AS yang difasilitasi oleh Pakistan pada bulan Juni 2026.
“Isi dari memorandum Islamabad adalah mengakhiri konflik, bukan sekadar gencatan senjata. Pihak Amerika Serikat telah melanggar ketentuan dalam memorandum tersebut, sehingga pertempuran kembali pecah. Oleh karena itu, tidak ada gencatan senjata 60 hari yang perlu dilanjutkan,” ujar Araghchi.
Dia juga menjelaskan bahwa periode 60 hari yang tercantum dalam memorandum tersebut bertujuan untuk memberikan waktu melakukan negosiasi demi mencapai kesepakatan akhir, bukan sebagai batas waktu untuk gencatan senjata.
“Baik Qatar maupun Pakistan masih aktif bertukar pesan dan berkomunikasi dengan kami, namun ini tidak berarti bahwa negosiasi telah dimulai. Hingga saat ini, kami belum memutuskan untuk melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat,” tambahnya.
Araghchi menambahkan bahwa negosiasi dengan Oman masih berlangsung, namun sepenuhnya terpisah dari diskusi apa pun dengan Washington.
Dia menjelaskan bahwa perundingan tersebut bersifat teknis, yang berfokus pada penentuan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz, mengingat rute yang ada saat ini sudah tidak lagi relevan.
“Saat ini, kami sedang merancang rute sementara yang diharapkan nantinya akan menjadi rute permanen,” ungkapnya.
Menteri Luar Negeri Iran tersebut menyatakan bahwa para ahli dari kedua negara serta angkatan bersenjata Iran terlibat dalam diskusi ini, dan proses negosiasi diharapkan dapat segera diselesaikan.
Araghchi juga menegaskan bahwa perundingan teknis mengenai jalur pelayaran tidak boleh disamakan dengan isu pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Setelah jalur ditentukan, keputusan mengenai apakah Selat Hormuz akan dibuka kembali akan bergantung pada pemenuhan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh Amerika Serikat,” pungkasnya.
➡️ Baca Juga: Hindari Kawasan DPR Pagi Ini untuk Menghindari Kemacetan Saat Sidang Tahunan berlangsung
➡️ Baca Juga: 7 Fitur Tersembunyi Android 14 yang Wajib Diketahui untuk Meningkatkan Pengalaman Pengguna




