5 M Pramono untuk Meningkatkan Kewaspadaan Warga Jakarta Terhadap Abu Vulkanik Anak Krakatau

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengingatkan warga Ibu Kota untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Saat ini, status aktivitas gunung tersebut telah berada di level III, yang menunjukkan adanya peningkatan potensi bahaya.
“Saya ingin mengingatkan khususnya kepada masyarakat Jakarta untuk tetap tenang namun siaga. Status Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada level III atau siaga,” ungkap Pramono melalui akun Instagram resminya, pada Minggu, 6 September 2026.
Ia menginformasikan bahwa abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta. Mengantisipasi hal tersebut, Pramono memberikan lima langkah (5 M) kepada warga Jakarta untuk menghadapi potensi abu vulkanik yang mungkin muncul.
Langkah pertama yang disarankan adalah penggunaan masker untuk melindungi saluran pernapasan. Selanjutnya, masyarakat diimbau untuk menutup pintu, jendela, dan sumber air guna mencegah masuknya abu ke dalam rumah.
“Ketiga, batasi aktivitas di luar ruangan. Keempat, bersihkan abu dengan cara membasahi area yang terkena. Terakhir, pastikan untuk terus memantau informasi dari sumber resmi dan hindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi,” jelas Pramono.
“Tetap waspada dan lindungi diri serta keluarga Anda. Mari kita bersama-sama menjaga Jakarta dengan menjaga diri kita dari dampak abu vulkanik,” tambahnya.
Sebagai tambahan informasi, Badan Geologi menyatakan bahwa pertumbuhan Gunung Anak Krakatau setelah erupsi pada tahun 2018 relatif kecil. Menurut penjelasan dari Badan Geologi, saat ini gunung tersebut tidak menunjukkan potensi untuk runtuh yang bisa menyebabkan gelombang tsunami.
“Berdasarkan evaluasi terkini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau setelah erupsi 22 Desember 2018 masih terbatas dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan yang dapat memicu tsunami,” ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, dalam konferensi pers pada Minggu, 6 September 2026.
Lana juga menjelaskan bahwa tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau menimbulkan tsunami. Ia menjelaskan bahwa tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 disebabkan oleh keruntuhan sebagian dari tubuh gunung berapi yang jatuh ke laut dalam volume besar, dan bukan hanya karena aktivitas erupsi semata.
Jika kita membandingkan morfologi Gunung Anak Krakatau sebelum dan setelah tahun 2018, terlihat adanya perubahan signifikan.
“Morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan dengan kondisi sebelum peristiwa 2018. Sebagian besar bagian dari gunung di sisi tertentu telah mengalami keruntuhan pada tahun tersebut,” jelas Lana.
➡️ Baca Juga: B50 Siap Diluncurkan Juli 2026, DPR Dukung Penguatan Ketahanan Energi Nasional
➡️ Baca Juga: Terungkapnya Spesifikasi iPhone Ultra, Ponsel Lipat Apple yang Semakin Menarik




