Anak Terpapar Abu Vulkanik? Inilah 13 Langkah Penting dari IDAI untuk Orang Tua

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung sejak 4 September 2026 telah membuat masyarakat di beberapa wilayah harus lebih waspada. Abu vulkanik yang dihasilkan dilaporkan telah menyebar hingga kawasan Jabodetabek, Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada dalam status Siaga atau Level III. Badan Geologi Kementerian ESDM menegaskan bahwa aktivitas vulkanik gunung ini tetap tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Keadaan ini tentu sangat mengkhawatirkan, terutama bagi orang tua yang memiliki anak-anak kecil. Paparan abu vulkanik dapat berdampak negatif terhadap kesehatan saluran pernapasan, mata, serta kulit. Anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap efek buruk pencemaran udara.
Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material ini terdiri dari partikel-partikel halus yang dihasilkan dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik. Bentuknya yang tajam dan abrasif dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan jika terhirup.
Selain partikel padat, abu vulkanik juga bisa mengandung gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO). Paparan terhadap zat-zat ini dapat memperparah iritasi dan peradangan pada saluran pernapasan anak.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), menekankan pentingnya melakukan langkah-langkah pencegahan sedini mungkin.
“Tidak ada yang lebih berharga daripada keselamatan dan masa depan anak-anak kita. Di tengah ancaman nyata dari abu vulkanik, kita harus memprioritaskan perlindungan mereka melalui tindakan preventif yang cepat dan tegas. Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatan mereka di masa depan,” jelas dr. Piprim dalam keterangannya, yang dirilis pada 7 September 2026.
Di sisi lain, Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), mengingatkan bahwa gangguan pernapasan adalah salah satu dampak yang harus diperhatikan.
“Gejala yang paling sering terjadi adalah iritasi pada saluran napas yang dapat menyebabkan bersin, batuk, pilek, dan bahkan sesak napas. Anak-anak yang memiliki riwayat asma, alergi, atau penyakit paru-paru kronis dapat mengalami serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya akibat paparan ini,” ungkap dr. Wahyuni.
➡️ Baca Juga: Menhan Sjafrie Memimpin Rapat Dalam Pesawat Hercules untuk Bahas Industri Dirgantara Nasional
➡️ Baca Juga: Operasi Kelamin Jadi Wanita dan Keinginan Taubat: Panduan dari Buya Yahya




