Wali Kota Muslim Prancis Lindungi Pelajar Demo, Menunjukkan Kepedulian Sosial yang Tinggi

Dalam beberapa hari terakhir, aksi protes yang melibatkan ratusan pelajar di Prancis terkait dengan kondisi sekolah menengah atas (SMA) telah menarik perhatian luas. Demonstrasi tersebut berubah menjadi kerusuhan dan kekerasan sporadis pada Selasa, 6 Oktober 2026, ketika hampir 500 orang dilaporkan ditangkap selama aksi tersebut.
Di tengah hiruk-pikuk protes ini, Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, menjadi pusat perhatian di media sosial. Dalam sejumlah rekaman yang beredar, ia terlihat berdiri di depan petugas kepolisian saat berlangsungnya unjuk rasa di Paris pada tanggal yang sama. Bagayoko tampak berusaha melindungi para pelajar dengan teriakan tegas, “Berhenti!”
Bagayoko mengungkapkan dukungannya terhadap para pelajar di kawasan pinggiran Paris, yang umumnya terdiri dari masyarakat kelas pekerja. Ia juga meminta aparat kepolisian untuk tidak membubarkan dan mengejar para demonstran yang sedang menyuarakan aspirasi mereka.
“Mereka sudah memutuskan untuk bergerak maju dan mengejar para pelajar. Padahal, banyak di antara mereka sama sekali tidak menunjukkan tindakan agresif terhadap polisi,” jelas Bagayoko dalam pernyataan yang dilaporkan oleh CNA News pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurut Bagayoko, situasi semakin memburuk ketika polisi mulai menggunakan gas air mata terhadap massa, termasuk dirinya sendiri.
Sebagai seorang ayah dari empat anak, Bagayoko merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung para pelajar dalam perjuangan mereka.
“Para siswa sekolah menengah yang turun ke jalan itu bisa saja adalah anak-anak saya … Jadi, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk berada di sisi mereka,” ungkapnya.
Saint-Denis, yang memiliki tingkat kemiskinan lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional Prancis, menjadi salah satu titik awal demonstrasi pelajar pada akhir September. Aksi tersebut dipicu oleh ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan tenaga pengajar, serta ketidakadilan dalam kesempatan pendidikan.
Bagayoko menekankan bahwa pemerintah seharusnya mengutamakan investasi dalam sektor pendidikan dan mengenakan pajak yang lebih tinggi kepada kalangan miliarder untuk mendukung inisiatif tersebut.
“Protes bukanlah hal baru di sini. Aksi serupa sering terjadi setiap awal tahun ajaran. Janji Republik mengenai kesetaraan, khususnya untuk masyarakat di kawasan kelas pekerja dan juga daerah pedesaan, belum terpenuhi,” tutup Bagayoko, menyoroti kebutuhan mendesak untuk reformasi pendidikan yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Prabowo Tegaskan Kewarganegaraan Ganda: Atlet Tidak Perlu Pilih Antara Tanah Air dan Karier
➡️ Baca Juga: Calon Duet Ole Romeny Bergabung dengan Klub Besar Rumania Setelah Diabaikan John Herdman




