Bandara Riyadh Diserang Kembali, Meningkatkan Jumlah Korban di Tengah Konflik yang Memanas

Terminal penumpang di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, kembali menjadi sasaran serangan pada hari Minggu (11/10). Insiden ini terjadi hanya sehari setelah serangan sebelumnya yang mengakibatkan kematian setidaknya 12 orang, termasuk seorang warga negara Amerika Serikat, serta melukai ratusan orang lainnya.
Serangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari serangkaian aksi yang dilancarkan oleh kelompok Houthi di Yaman, yang mengklaim telah melakukan minimal empat serangan yang menyasar Bandara Internasional King Khalid sejak hari Sabtu.
Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa dalam serangan terbaru tersebut, satu orang tewas dan sebelas lainnya mengalami cedera di kompleks terminal 3 dan 4 yang melayani penerbangan domestik. Korban jiwa diketahui sebagai seorang warga negara Pakistan, sementara para korban luka telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Dalam lima hari terakhir, bandara ini telah mengalami empat kali serangan, dan ditutup sejak serangan rudal pada hari Sabtu lalu. Insiden tersebut menjadi yang paling mematikan di kawasan Teluk Arab sejak dimulainya konflik Iran. Lebih dari 300 orang dilaporkan terluka, dengan beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis.
Brigadir Jenderal Yahya Saree, juru bicara militer Houthi, menyatakan melalui platform Telegram bahwa serangan ini merupakan bentuk respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi brutal yang dilakukan oleh Arab Saudi terhadap Yaman. Ia juga mengklaim bahwa dalam waktu 24 jam terakhir, Arab Saudi telah meluncurkan lebih dari 120 serangan udara di wilayah yang dikuasai oleh Houthi.
Media berita internasional melaporkan bahwa Houthi juga mengklaim telah menargetkan beberapa fasilitas penting, termasuk kompleks gas Shugadam yang dikelola oleh Aramco, kilang minyak Tanajib, serta Bandara Internasional King Fahd yang terletak di Dammam.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi telah mengonfirmasi adanya serangan terhadap fasilitas Bandara King Fahd tersebut, menambah daftar target yang disasar dalam konflik ini.
Serangan yang terjadi di bandara Riyadh pada hari Sabtu lalu tercatat sebagai insiden paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade. Kejadian ini menandai peningkatan signifikan dalam pertikaian antara kelompok Houthi, yang didukung oleh Iran, dan Arab Saudi. Selain itu, serangan ini semakin menyulitkan upaya diplomatik yang terhambat untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Sebagai langkah antisipatif, Arab Saudi telah mengalihkan proses pembelajaran di sekolah-sekolah di Riyadh menjadi sistem daring, menyusul ancaman terbaru yang dilontarkan oleh Houthi. Di sisi lain, layanan pelacak penerbangan Flightradar24 mencatat bahwa sejumlah penerbangan dialihkan ke bandara lain sebagai respons terhadap situasi yang tidak aman ini. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Australia, dan Kanada juga telah mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk menghindari perjalanan ke bandara tersebut.
➡️ Baca Juga: Membangun Keahlian Public Speaking untuk Meningkatkan Peluang Bisnis dan Jaringan Relasi
➡️ Baca Juga: Manfaat Bermain untuk Anak yang Sering Tidak Disadari oleh Orang Tua dan Pentingnya Aktivitas Ini




