AS dan Iran Gelar Perundingan Malam Ini di Pakistan untuk Mencari Solusi Diplomatik

Perundingan yang dijadwalkan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad diharapkan dimulai pada Sabtu malam dan berlangsung selama satu hari penuh. Informasi ini disampaikan oleh Kantor Berita Tasnim pada 11 April 2026.
Delegasi Iran bersiap untuk menghadapi berbagai kemungkinan hasil dari pertemuan tersebut, termasuk kemungkinan tidak tercapainya kesepakatan, seperti yang dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB.
Pertemuan ini direncanakan akan berlangsung dalam format langsung dan tidak langsung. Pakistan berperan sebagai mediator, dengan harapan dapat berkontribusi terhadap terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.
Delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf. Dalam rombongan tersebut terdapat juga Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Ali Akbar Ahmadian, dan Gubernur Bank Sentral, Abdolnaser Hemmati.
Sementara itu, delegasi dari Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden J. D. Vance, didampingi oleh utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantu Trump, Jared Kushner.
Pada 7 April 2026, Trump mengumumkan kesepakatan dengan Iran mengenai gencatan senjata selama dua minggu.
Menteri Luar Negeri Araghchi kemudian mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali, yang merupakan jalur penting yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak, produk petroleum, dan LNG dunia.
Beberapa jam sebelum perundingan yang direncanakan berlangsung, Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan ultimatum kepada Tehran.
Dalam pernyataannya pada Jumat malam waktu AS, Trump menyatakan bahwa angkatan laut Amerika telah disiapkan untuk menyerang Iran jika perundingan tidak membuahkan hasil.
“Kami sedang melakukan penyesuaian. Kami mempersenjatai kapal-kapal kami dengan amunisi terbaik dan senjata berkualitas tinggi, bahkan lebih baik daripada sebelumnya. Kami telah menghancurkan mereka sebelumnya, dan jika tidak ada kesepakatan, kami akan menggunakannya dengan sangat efektif,” ujar Trump dalam wawancara dengan New York Post, seperti yang dilansir oleh NDTV pada 11 April 2026.
Dalam sebuah unggahan terpisah di Truth Social, Trump menyatakan bahwa Iran tidak memiliki kartu dan hanya bisa memeras dunia melalui jalur maritim internasional.
➡️ Baca Juga: Google Maps Tingkatkan Pengalaman Pengguna Mobil Listrik Secara Signifikan
➡️ Baca Juga: Ustaz Khalid Basalamah Tanya Daniel Mananta, Ustaz Syam Terjerat Isu Pelecehan




