Harga BBM Melonjak Tajam, 55 Ribu Pekerja Mendesak WFH dan Penerapan 4 Hari Kerja

Puluhan ribu pegawai pemerintah daerah di New South Wales, Australia, sedang mendesak penerapan kerja dari rumah (WFH), pengenalan skema kerja empat hari, serta peningkatan subsidi bahan bakar sebagai respons terhadap lonjakan harga BBM yang dipicu oleh krisis geopolitik global. Serikat pekerja United Services Union (USU) telah mengajukan permohonan kepada Komisi Hubungan Industrial NSW untuk menetapkan aturan darurat yang berlaku selama “krisis bahan bakar” ini, yang dapat mencakup lebih dari 55.000 pekerja dewan di seluruh negara bagian.
Aturan yang diusulkan akan bersifat sementara selama 12 bulan dan dapat diaktifkan jika harga bensin tanpa timbal melebihi US$2, yang setara dengan sekitar Rp34.000 per liter (dengan asumsi kurs Rp17.000). USU menekankan bahwa kebijakan ini sangat penting mengingat beban biaya bahan bakar yang semakin berat bagi pegawai, khususnya di sektor publik daerah.
“Sejak saat itu, situasi di Timur Tengah belum menunjukkan perbaikan, dan kami berkomitmen untuk meningkatkan upaya kami demi kepentingan anggota agar mereka tidak harus menanggung beban dari krisis ini,” ungkap kepala hukum USU, Daniel Papps, sebagaimana dikutip dalam laporan terbaru.
“Kami berharap agar pegawai yang bisa melaksanakan tugas dari rumah diizinkan untuk melakukannya, sehingga pasokan bensin dan diesel di pompa tetap tersedia bagi pegawai dewan lainnya yang membutuhkan, seperti pekerja lapangan, sopir truk, dan petugas taman,” tambahnya.
Dalam proposal yang diajukan, pegawai administratif seperti akuntan, insinyur, dan staf kantor akan diberikan kesempatan untuk bekerja dari rumah jika memungkinkan. Sementara itu, pegawai yang tidak dapat WFH akan dialihkan ke skema kerja empat hari dengan jam kerja yang lebih panjang guna mengurangi frekuensi perjalanan harian mereka.
Di samping itu, USU juga mengusulkan peningkatan subsidi bahan bakar menjadi $1,25 per kilometer dari sebelumnya yang hanya 83 sen per kilometer. Berdasarkan survei yang dilakukan, sekitar 40 persen pekerja mengeluarkan biaya tambahan minimal $50 per minggu untuk bahan bakar, sementara 20 persen lainnya menghabiskan lebih dari $100 per minggu.
“Kami berada di masa yang penuh ketidakpastian saat ini, dan kami memahami bahwa banyak anggota FSU merasa khawatir mengenai situasi global serta tekanan biaya hidup yang semakin meningkat,” kata Finance Sector Union (FSU) dalam pernyataannya.
➡️ Baca Juga: Jaksa Tuntut Mati ABK Fandi Minta Maaf di DPR Setelah Dikenakan Sanksi Jamwas
➡️ Baca Juga: Strategi Efektif untuk Meningkatkan Conversion Rate pada Landing Page Bisnis Anda




