4 Pekerja Proyek yang Meninggal di Tanjung Barat Tidak Menggunakan APD dengan Benar

Jakarta – Polisi telah menyelesaikan olah tempat kejadian perkara (TKP) terkait tragedi yang menewaskan empat pekerja di proyek bangunan bertingkat di Jalan Tb Simatupang RT.02 RW.02, Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang terjadi pada Jumat, 3 April 2026.
Kanit Krimsus Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Indra Darmawan, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan di TKP menunjukkan bahwa para pekerja yang meninggal dunia tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) saat melaksanakan tugas mereka.
“Dalam pemeriksaan awal yang dilakukan oleh anggota piket, terungkap bahwa saat kejadian tersebut, para pekerja tidak mengenakan alat pelindung diri atau APD,” ungkap Indra kepada wartawan pada Rabu, 8 April 2026.
Indra juga menambahkan bahwa pihaknya masih menyelidiki potensi kelalaian yang mungkin terjadi dalam insiden ini.
“Untuk menentukan apakah ada unsur tindak pidana, kelalaian, atau jika ini murni merupakan kecelakaan kerja, kami masih melakukan pendalaman,” jelasnya.
Dari informasi yang diperoleh, keempat pekerja tersebut ditemukan meninggal di lokasi proyek bangunan bertingkat di Jalan Tb Simatupang RT.02 RW.02, Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada pagi hari Jumat, 3 April 2026.
Kapolsek Jagakarsa, Kompol Nurma Dewi, menjelaskan bahwa kejadian ini berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB.
“Korban yang meninggal terdiri dari empat orang dengan inisial YN (32), M (62), TS (63), dan MF (19). Mereka semua merupakan warga dari Jawa Barat,” kata Nurma kepada wartawan pada hari yang sama.
Nurma menambahkan bahwa keempat pekerja diduga terjatuh ke dalam lubang geloteng saat sedang bekerja. Menurut keterangan saksi yang juga merupakan rekan kerja mereka, insiden ini terjadi saat mandor memberi instruksi kepada para pekerja untuk membersihkan tempat geloteng, yang berfungsi sebagai penampungan air bersih di basement.
“Ketika proses pembongkaran penutup dilakukan, korban terjatuh ke dalam lubang geloteng. Meskipun sempat ditolong oleh rekan-rekannya, mereka tidak menggunakan perlengkapan keselamatan,” jelas Nurma.
Rekan kerja korban juga mengalami kecelakaan serupa dengan terjatuh ke dalam geloteng, dan mandor meminta bantuan saksi untuk mengevakuasi korban yang terjebak di dalam geloteng.
“Selama proses evakuasi, saksi merasakan hawa panas dan sesak di sekitar area geloteng. Akibat kejadian ini, tiga pekerja lainnya juga mengalami kesulitan bernapas,” ungkap Nurma.
Situasi yang terjadi di proyek bangunan ini menyoroti pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) dalam setiap kegiatan pekerjaan konstruksi. Kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan nyawa pekerja seharusnya menjadi pengingat bagi semua pihak, terutama pengelola proyek, untuk memastikan bahwa keselamatan kerja menjadi prioritas utama.
Dalam banyak kasus, penggunaan APD yang tepat dapat mencegah terjadinya kecelakaan fatal. Oleh karena itu, semua pekerja di proyek konstruksi harus diberikan pelatihan yang memadai mengenai pentingnya keselamatan kerja dan penggunaan alat pelindung diri.
Beberapa langkah yang seharusnya diambil untuk meningkatkan keselamatan kerja di lokasi proyek antara lain:
– Penyediaan APD yang memadai untuk semua pekerja.
– Pelatihan keselamatan kerja secara berkala.
– Pengawasan ketat terhadap penerapan standar keselamatan.
– Penegakan disiplin dalam penggunaan APD.
– Pembuatan prosedur darurat yang jelas.
Kejadian tragis ini juga menggarisbawahi tanggung jawab semua pihak dalam menjaga keselamatan pekerja di lapangan. Pengusaha dan mandor harus memastikan bahwa setiap pekerja dilindungi dengan cara yang tepat saat menjalankan tugasnya.
Selanjutnya, pihak berwenang diharapkan dapat melakukan investigasi secara menyeluruh untuk menentukan penyebab pasti dari insiden ini. Keterlibatan semua pihak dalam menjaga keselamatan kerja sangat penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Dengan penegakan hukum yang tegas dan kesadaran akan pentingnya keselamatan kerja, diharapkan bahwa insiden yang mengakibatkan kehilangan nyawa pekerja dapat diminimalisir. Hal ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perusahaan dan pekerja itu sendiri untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.
Tragedi di Tanjung Barat ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pengelola proyek dan pekerja di sektor konstruksi. Keselamatan tidak boleh dianggap remeh, dan setiap tindakan harus diambil untuk melindungi nyawa mereka yang bekerja keras demi pembangunan.
➡️ Baca Juga: Kisah Sukses Berkat Kesehatan: Inspirasi Hidup Sehat
➡️ Baca Juga: Harga BBM Melonjak Tajam, 55 Ribu Pekerja Mendesak WFH dan Penerapan 4 Hari Kerja




