Rusia Raup Rp325 Triliun dari Ekspor Minyak Akibat Konflik AS-Iran

Pendapatan dari ekspor minyak Rusia mengalami lonjakan signifikan pada bulan Maret, hampir dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh keputusan Amerika Serikat yang memberikan pengecualian sementara terhadap sanksi guna menstabilkan pasar energi global, seperti yang diungkapkan oleh Badan Energi Internasional (IEA).
Dalam laporan bulanan mengenai pasar minyak, IEA mencatat bahwa pendapatan Rusia dari pengiriman minyak mentah dan produk olahan meningkat menjadi $19 miliar pada bulan lalu, yang setara dengan sekitar Rp325,5 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.136 per dolar AS. Ini merupakan kebangkitan yang tajam setelah pendapatan pada bulan Februari tercatat di titik terendah pasca-invasi, yakni hanya $9,75 miliar.
Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah turut mengerek harga minyak mentah Rusia hingga mencapai $78 per barel, naik dari hampir $46 per barel. Kenaikan harga ini juga diikuti oleh peningkatan harga solar dan bahan bakar minyak lainnya.
Peningkatan yang signifikan ini juga bertepatan dengan langkah Departemen Keuangan AS yang mengeluarkan pengecualian 30 hari untuk pengiriman dan penjualan minyak mentah serta produk minyak bumi Rusia yang dimuat ke kapal antara 12 Maret hingga 11 April.
Laporan IEA juga menunjukkan bahwa impor minyak mentah Rusia oleh India meningkat lebih dari dua kali lipat pada bulan Maret setelah AS mencabut pembatasan terhadap pembelian minyak Rusia yang berada di laut sebelum 5 Maret.
Total ekspor minyak Rusia pada bulan Maret melonjak menjadi 7,1 juta barel per hari, meningkat sebesar 320.000 barel per hari dibandingkan dengan bulan Februari. Selain itu, produksi minyak mentah Rusia juga menunjukkan peningkatan moderat, menjadi 8,96 juta barel per hari.
Berdasarkan laporan IEA, impor minyak mentah Rusia oleh India mengalami peningkatan signifikan, yang menunjukkan dampak positif dari pencabutan pembatasan pembelian oleh AS terhadap minyak Rusia yang berada di laut sebelum 5 Maret.
Meski pendapatan meningkat, IEA memperingatkan bahwa produksi minyak Rusia dapat mencapai titik jenuh dalam waktu dekat. Ini disebabkan oleh serangan pesawat tak berawak dari Ukraina yang terus menerus merusak infrastruktur pelabuhan dan sistem energi Rusia.
Di sisi lain, masih belum diketahui apakah AS akan memperpanjang pengecualian sanksi untuk minyak Rusia. Beberapa laporan menyebutkan bahwa Presiden AS dan Menteri Keuangan telah sepakat bahwa memperpanjang pengecualian tersebut adalah langkah yang berpotensi menguntungkan.
➡️ Baca Juga: Latihan Kebugaran Aman di Bulan Desember untuk Menunjang Rutinitas Akhir Tahun yang Aktif
➡️ Baca Juga: Tingkatkan Pendapatan dengan Bisnis Rumahan Jualan Mie Ayam untuk Menu Siang Harian




