Oracle PHK 30.000 Karyawan Sambil Rekrut Ribuan Tenaga Kerja Asing Baru

Oracle baru-baru ini mengambil langkah drastis dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 30.000 karyawan di berbagai negara. Langkah ini menimbulkan kontroversi, terutama terkait dengan rencana perusahaan untuk merekrut tenaga kerja asing melalui program visa H-1B.
PHK ini diumumkan melalui email pada 31 Maret, yang diterima oleh karyawan di Amerika Serikat, India, Kanada, Meksiko, dan negara lainnya sekitar pukul 06.00 waktu setempat.
Dalam email yang dikirimkan oleh “Oracle Leadership”, perusahaan menerangkan bahwa keputusan ini merupakan bagian dari penyesuaian organisasi yang lebih besar.
“Setelah melakukan evaluasi mendalam terhadap kebutuhan bisnis Oracle saat ini, kami memutuskan untuk menghapus posisi Anda sebagai bagian dari perubahan organisasi yang lebih luas,” demikian isi email tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh The Economic Times pada 3 April 2026.
Perusahaan juga menjelaskan ketentuan pesangon bagi karyawan yang terkena dampak. “Setelah menandatangani dokumen pemutusan kerja, Anda akan berhak menerima paket pesangon sesuai dengan ketentuan dan syarat dalam rencana pesangon.”
Di samping itu, akses kerja karyawan yang terkena PHK juga akan segera dinonaktifkan. “Akses ke komputer, email, voicemail, dan file Anda akan segera ditutup, dan Anda tidak akan dapat lagi mengakses sistem komputer Anda.”
Sementara itu, Oracle menghadapi kritik tajam karena mengajukan ribuan permohonan visa H-1B untuk merekrut tenaga kerja asing. Perusahaan ini tercatat telah mengajukan sekitar 3.126 petisi untuk tahun fiskal 2025 dan 2026, di mana sekitar 436 petisi sudah diajukan pada tahun ini.
Program H-1B sendiri memungkinkan perusahaan di Amerika Serikat untuk mempekerjakan tenaga kerja asing di bidang keahlian tertentu jika tidak tersedia kandidat lokal yang memenuhi syarat. Namun, kebijakan ini kembali menimbulkan perdebatan di tengah gelombang PHK yang melanda sektor teknologi.
Tindakan Oracle tersebut telah memicu berbagai reaksi di media sosial. Banyak pengguna menganggap kebijakan perusahaan ini tidak sensitif terhadap karyawan yang terkena PHK.
“Ini seperti tamparan di wajah kami,” keluh salah satu karyawan yang terdampak.
Beberapa pengguna lain menyoroti pola yang sering dilakukan oleh perusahaan teknologi. “Lihat saja semua perusahaan teknologi besar, mereka melakukan PHK masal lalu merekrut kembali dengan gaji yang lebih rendah.”
“Perusahaan multinasional tidak menunjukkan loyalitas terhadap negara dan rakyat Amerika,” ungkap salah satu pengguna.
Hingga saat ini, Oracle belum memberikan pernyataan resmi menanggapi kritik yang muncul dari masyarakat.
➡️ Baca Juga: Maksimalkan Pendapatan dengan Side Hustle Digital Melalui Pembuatan Ebook Singkat
➡️ Baca Juga: Seniman Asia Tenggara Menunjukkan Kemampuan Memprediksi Masa Depan Sebelum Ilmuwan




