Prancis Izinkan Penjualan Solar di Bawah Standar untuk Mengatasi Kelangkaan BBM

Pemerintah Prancis telah memberikan izin sementara untuk penjualan solar yang tidak memenuhi standar teknis yang berlaku, menurut laporan dari BFMTV pada 26 Maret 2026.
Menteri Ekonomi dan Keuangan Prancis, Roland Lescure, menyatakan bahwa situasi pasar energi di Prancis tidak seburuk yang dihadapi oleh beberapa negara Uni Eropa lainnya.
Bahan bakar yang diizinkan untuk dijual ini diketahui memiliki ketahanan yang lebih rendah terhadap suhu dingin, terutama terkait dengan titik sumbat filter dingin (cold filter plugging point), yaitu suhu maksimum di mana mesin diesel masih dapat berfungsi.
Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap kemungkinan kelangkaan solar di tengah fluktuasi harga energi global yang tidak menentu, seperti yang tercantum dalam laporan tersebut.
Dalam kondisi normal, standar di Prancis mengharuskan mesin diesel beroperasi pada suhu serendah minus 15 derajat Celsius.
Namun, pengecualian ini memungkinkan penjualan solar yang hanya dapat berfungsi pada suhu hingga nol derajat Celsius.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap berbagai target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di kalangan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika di Timur Tengah.
Eskalasi konflik ini mengakibatkan blokade secara de facto di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pengiriman utama untuk minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar dunia.
Gangguan ini juga berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan, serta berkontribusi pada kenaikan harga energi di seluruh dunia.
➡️ Baca Juga: Bitcoin Terjun Drastis ke US$63.000 Setelah Serangan AS dan Israel ke Iran
➡️ Baca Juga: Persija Kirim Enam Pemain ke Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026, Bagaimana dengan Persib?




