Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Australia telah memicu fenomena panic buying di berbagai daerah. Banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) melaporkan kehabisan stok, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak konflik global terhadap pasokan energi yang mereka andalkan.
Kenaikan harga ini muncul di tengah meningkatnya harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan ini berdampak pada gangguan rantai pasokan global. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menyentuh angka tertinggi dalam hampir dua minggu terakhir, mencapai US$116 per barel, yang setara dengan sekitar Rp 1,96 juta berdasarkan estimasi kurs Rp 16.970 per dolar AS, pada sesi perdagangan tanggal 31 Maret 2026.
Kenaikan harga BBM di Australia tampaknya tidak dapat dihindari, mengingat bahwa 80 persen dari kebutuhan energi negara ini bergantung pada impor. Hingga 25 Maret, harga diesel di lima kota besar Australia meningkat sekitar 10 persen, sementara bensin mengalami kenaikan sebesar 8 persen dalam waktu satu minggu.
Peter Khoury, seorang perwakilan dari National Roads and Motorists’ Association, mengungkapkan bahwa harga bensin telah meningkat sekitar 33 sen per liter dalam periode dua minggu terakhir. Hal ini menunjukkan dampak yang signifikan dari lonjakan harga energi terhadap masyarakat.
Kenaikan harga BBM ini sebagian besar disebabkan oleh perilaku konsumen yang melakukan pembelian dalam jumlah besar. Lebih dari 500 SPBU dilaporkan kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar akibat lonjakan permintaan yang tidak biasa, menciptakan situasi yang semakin sulit bagi konsumen.
Meskipun panic buying terjadi di seluruh penjuru negeri, Menteri Energi Australia, Chris Bowen, menegaskan bahwa cadangan energi nasional masih dalam keadaan aman. Ia menjelaskan bahwa stok bensin cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 39 hari, sementara untuk diesel dan bahan bakar jet, stoknya dapat bertahan sekitar 30 hari ke depan.
Menanggapi situasi ini, pemerintah Australia segera mengambil langkah-langkah untuk meredakan tekanan yang dihadapi masyarakat. Perdana Menteri Anthony Albanese mengumumkan pemangkasan pajak BBM sebesar 50 persen selama tiga bulan, yang akan berlaku mulai 1 April hingga 30 Juni 2026.
Albanese menjelaskan bahwa kebijakan pemotongan bea masuk ini diharapkan dapat menurunkan harga BBM sekitar 26,3 sen dolar Australia per liter. Dengan demikian, pengemudi yang memiliki tangki berkapasitas 65 liter dapat menghemat hampir 19 dolar Australia. Selain itu, pemerintah juga akan menangguhkan biaya penggunaan jalan untuk kendaraan berat selama periode tiga bulan yang sama.
“Kami memahami bahwa tekanan biaya yang dialami masyarakat sangat nyata. Pemerintah ingin bersiap menghadapi dampak dari konflik yang sedang berlangsung,” tegas Albanese, menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung warganya di tengah situasi yang sulit ini.
➡️ Baca Juga: Monita Tahalea Punya Riwayat GERD, Gejala Nggak Gampang Kambuh Berkat Matcha
➡️ Baca Juga: Dapatkan Penghasilan Online dengan Menjadi Penguji Fitur Baru di Platform Beta Software
