Dajjal dalam keyakinan Islam merupakan salah satu sosok yang paling misterius dalam ajaran mengenai akhir zaman. Ia dikenal sebagai figur yang akan membawa fitnah besar dan menyesatkan banyak orang menjelang hari kiamat.
Oleh karena itu, diskusi mengenai Dajjal selalu menjadi topik yang menarik bagi ulama dan masyarakat Muslim yang ingin memahami tanda-tanda akhir zaman dengan lebih mendalam.
Secara etimologis, kata “Dajjal” berasal dari bahasa Arab yang berarti penipuan atau kebohongan. Ini mencerminkan karakter utama dari sosok tersebut yang terkenal sebagai penyebar kebatilan. Dalam literatur klasik, istilah ini dihubungkan dengan arti menipu atau memperdaya.
Dalam kajian eskatologi Islam, Dajjal tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Namun, penjelasan tentangnya banyak ditemukan dalam berbagai hadits yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Karena termasuk dalam perkara gaib, umat Islam meyakininya sebagai bagian dari hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal, tetapi diketahui melalui wahyu dan penjelasan yang disampaikan oleh Rasulullah.
Salah satu hadits yang memberikan penjelasan tentang Dajjal diriwayatkan oleh Safinah, pelayan Rasulullah SAW. Dalam hadits itu, Rasulullah SAW menyampaikan pesan yang sangat penting.
Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah, tidak ada seorang Nabi pun sebelumku yang tidak memperingatkan umatnya tentang bahaya Dajjal. Ia memiliki satu mata di sebelah kiri, sedangkan di mata kanannya terdapat kulit tebal, dan di antara kedua matanya tertulis ‘kafir’. Dua lembah akan muncul bersamanya, satu lembah berupa surga dan yang lainnya neraka. Nerakanya dianggap sebagai surga dan surganya dianggap sebagai neraka. Ada dua malaikat yang menyertainya yang tampak mirip dengan Nabi. Seandainya aku mau, aku bisa menyebutkan nama-nama mereka dan nama-nama ayah mereka. Salah satunya berada di sebelah kanan dan yang lainnya di sebelah kiri. Itu semua adalah ujian. Dajjal kemudian berkata, ‘Bukankah aku adalah Rabb kalian? Bukankah aku bisa menghidupkan dan mematikan?’ Salah satu malaikat menjawab, ‘Kau berdusta.’ Namun, hanya temannya yang mendengar. Malaikat lainnya menjawab, ‘Kau benar.’ Dan orang-orang mendengarnya, mengira malaikat itu membenarkan Dajjal. Itu semua adalah ujian. Dajjal kemudian berjalan menuju Madinah tetapi tidak diizinkan untuk memasukinya, dan ia berkata, ‘Ini adalah tempat orang itu.’ Selanjutnya, Dajjal melanjutkan perjalanannya ke Syam dan Allah membinasakannya di ‘Aqabah Afiq,’” demikian sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahmad Ibn Hanbal.
Dengan pemahaman yang mendalam tentang Dajjal, umat Islam diharapkan dapat lebih waspada dan bersiap menghadapi tantangan yang akan datang dalam akhir zaman. Persiapan mental dan spiritual sangat penting agar tidak terjerumus dalam fitnah yang dibawa oleh sosok yang penuh tipu daya ini.
➡️ Baca Juga: Inovasi Teknologi Hijau: Perusahaan Start-Up Indonesia
➡️ Baca Juga: Peningkatan Infrastruktur di Wilayah Terpencil Indonesia
