Kecelakaan yang melibatkan kendaraan komersial di Indonesia masih sering terjadi, dengan banyak di antaranya disebabkan oleh faktor-faktor yang sebenarnya dapat dicegah. Salah satu kasus yang paling mencolok adalah rem blong, yang angkanya jauh melebihi negara-negara lain di dunia.
Dalam penjelasannya, Investigator Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Ahmad Wildan, mengemukakan bahwa insiden rem blong bukan hanya sekadar masalah teknis, tetapi juga merupakan kegagalan dalam manajemen risiko yang tepat.
Keselamatan, dalam definisi yang lebih luas, adalah keadaan di mana individu terlindungi dari risiko. Risiko sendiri adalah potensi terjadinya bahaya. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan keselamatan tidak hanya berfokus pada penanganan setelah kecelakaan terjadi, melainkan juga pada kemampuan untuk mendeteksi dan mengendalikan potensi bahaya sejak awal.
Dalam sistem manajemen keselamatan (SMS), terdapat lima faktor utama yang berkontribusi terhadap risiko kecelakaan, yaitu pengemudi, kendaraan, jalur, muatan, dan penanganan keadaan darurat. Dari kelima faktor tersebut, pengemudi dan kendaraan disebut sebagai elemen kunci yang harus diperhatikan.
Hasil dari penyelidikan yang dilakukan oleh KNKT menunjukkan bahwa penyebab utama dari kasus rem blong biasanya terletak pada dua hal: kesalahan pengemudi dalam menggunakan transmisi dan kerusakan pada sistem rem itu sendiri.
“Insiden ini sebenarnya bisa dihindari,” tegas Wildan saat memberikan keterangan di Kemayoran, Jakarta.
Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, terdapat perbedaan yang mencolok. Di Amerika Serikat, kasus rem blong terjadi sekitar satu kali setiap tahun. Di Jepang, frekuensinya bahkan lebih rendah, hanya sekali dalam lima tahun. Sementara itu, di Indonesia, jumlah kejadian rem blong bisa mencapai antara 5.000 hingga 6.000 kasus setiap tahunnya.
Situasi ini mencerminkan adanya masalah mendasar dalam sistem keselamatan transportasi darat di Indonesia, terutama dalam hal kompetensi sumber daya manusia yang terlibat.
Peran pengemudi sangatlah penting dalam konteks ini. Pelatihan yang memadai, mulai dari teknik berkendara hingga pemahaman tentang torsi dan RPM, serta prosedur pemeriksaan kendaraan sebelum digunakan, terbukti dapat mengurangi biaya operasional secara signifikan.
Dalam salah satu kasus, sebuah perusahaan yang rutin memberikan pelatihan kepada pengemudinya berhasil menurunkan biaya perawatan kendaraannya dari sekitar Rp 3 miliar per tahun menjadi hanya Rp 900 juta. Efisiensi juga terlihat pada penggunaan bahan bakar yang lebih hemat.
Namun, kenyataannya di lapangan menunjukkan bahwa banyak pengemudi di Indonesia belum mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang memadai. Bahkan, dalam proses seleksi pengemudi di sebuah perusahaan besar, ditemukan bahwa banyak calon pengemudi yang belum memahami dasar-dasar sistem pengereman dengan baik.
➡️ Baca Juga: Menjaga Lingkungan: Langkah Kecil yang Berarti
➡️ Baca Juga: Peluang Menarik bagi Pemburu Mobil Bekas untuk Mendapatkan Penawaran Terbaik
