Harga Minyak Dunia Naik 20 Persen di Tengah Perang, Trump Prediksi Penurunan Cepat

Harga minyak dunia telah mengalami lonjakan signifikan, mencapai lebih dari US$100 per barel, seiring dengan meningkatnya ketegangan dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Meski demikian, mantan Presiden AS, Donald Trump, menyatakan keyakinannya bahwa kenaikan ini akan bersifat sementara dan harga akan segera turun dalam waktu dekat.
Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga global, mencatatkan kenaikan lebih dari 20 persen, melampaui angka US$114 atau setara dengan sekitar Rp 1,93 juta per barel pada perdagangan yang berlangsung pada Minggu, 8 Maret 2026. Pada hari berikutnya, harga kontrak berjangka minyak Brent melambung hingga 26,1 persen, mencapai US$116,08 per barel, yang berarti sekitar Rp 1.962.752.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menunjukkan peningkatan yang mencolok, melonjak 27,6 persen menjadi US$116,03 per barel. Kenaikan drastis ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan yang berkepanjangan terhadap pasokan energi global.
Sejak serangan gabungan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, harga minyak mentah telah melonjak sekitar 50 persen. Kenaikan terkini ini menandai momen penting, karena merupakan yang pertama kalinya harga minyak dunia melampaui US$100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
Meski ada lonjakan harga yang signifikan, Donald Trump berpendapat bahwa peningkatan harga minyak hanyalah bersifat temporer. Ia bahkan mengkritisi pandangan yang memperkirakan bahwa harga minyak dunia akan terus meningkat.
Dalam postingan di platform Truth Social, Trump menyampaikan, “Harga minyak dalam jangka pendek akan segera turun setelah ancaman nuklir dari Iran berhasil diminimalisir. Itu adalah biaya kecil yang harus dibayar demi keamanan dan perdamaian bagi Amerika Serikat dan dunia. Hanya orang yang tidak berakal yang berpikir sebaliknya.”
Pandangan yang sejalan juga diungkapkan oleh Menteri Energi AS, Chris Wright. Ia memperkirakan bahwa lonjakan harga energi tidak akan bertahan lama dan menegaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar di pompa bensin kemungkinan hanya bersifat sementara.
Peningkatan harga minyak dunia ini dipicu oleh ketegangan yang semakin meningkat di Selat Hormuz, setelah Iran menghentikan aktivitas pelayaran. Selat ini merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia, sehingga penutupan jalur ini menimbulkan kekhawatiran yang besar di pasar energi global.
➡️ Baca Juga: Menlu RI Kecam Israel Bajak Kapal Greta Cs: Pukulan Berat Bagi Gaza
➡️ Baca Juga: Calo Tipu Pembeli dan Pedagang Hewan Kurban di Jakarta, Gunakan Modus Media Sosial




