Jakarta – Inisiatif Epic Games melalui Epic Games Store dalam menarik minat gamer melalui program game gratis ternyata menghadirkan sejumlah tantangan baru. Beberapa mantan karyawan mengungkapkan bahwa banyak pengguna yang hanya datang untuk mengunduh game gratis, lalu kembali bertransaksi di platform lain seperti Steam.
Platform yang diluncurkan pada tahun 2018 ini memang dikenal dengan pendekatannya yang agresif dalam menarik perhatian pasar. Selain memberikan potongan biaya bagi pengembang yang lebih kecil dibandingkan dengan pesaingnya, Epic secara rutin menawarkan game gratis setiap minggu sebagai bagian dari strategi akuisisi pengguna.
Namun, strategi ini dianggap tidak sepenuhnya efektif dalam membangun loyalitas pengguna. Berdasarkan pengakuan internal, banyak pengguna yang hanya “singgah” saat ada penawaran gratis, tanpa benar-benar menjadikan platform tersebut sebagai tempat utama untuk membeli game.
Fenomena ini berdampak pada kinerja bisnis. Meskipun jumlah pengguna meningkat dengan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, pendapatan dari penjualan game pihak ketiga dilaporkan masih rendah dan sulit untuk dipertahankan. Program gratis yang seharusnya menjadi jalur untuk monetisasi justru dianggap kurang berhasil dalam mengubah pengguna menjadi pembeli aktif.
Data terbaru menunjukkan bahwa platform ini pernah mencatat puluhan juta pengguna aktif bulanan, namun angka penjualan tetap belum memenuhi ekspektasi yang ditetapkan perusahaan. Hal ini semakin menegaskan bahwa pertumbuhan jumlah pengguna tidak selalu sejalan dengan peningkatan pendapatan.
Di sisi lain, dominasi Steam sebagai platform distribusi game PC masih sangat kuat. Banyak gamer tetap memilih Steam sebagai tempat utama untuk pembelian karena ekosistem yang lebih matang, fitur komunitas yang lengkap, serta kebiasaan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Situasi ini juga muncul di tengah tekanan internal di perusahaan. Epic Games dilaporkan melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari seribu karyawan pada tahun 2026, seiring dengan penurunan kinerja di beberapa lini bisnis.
Ke depan, tantangan terbesar bagi Epic bukan hanya menarik pengguna baru, tetapi juga mempertahankan mereka agar mau bertransaksi di dalam ekosistemnya. Tanpa adanya perubahan strategi yang signifikan, program game gratis berisiko hanya menjadi daya tarik sementara, bukan sebagai fondasi untuk bisnis jangka panjang.
➡️ Baca Juga: Latihan Kekuatan Genggaman Tangan untuk Meningkatkan Kemampuan Angkat Beban Lebih Berat
➡️ Baca Juga: Dampak Media Sosial pada Motivasi Belajar Santri
