Banjir bandang dan longsor yang melanda Gyirong Port di Tibet pada 26 Agustus 2026 bukan hanya menyebabkan kerusakan fisik yang signifikan, tetapi juga memunculkan perdebatan tentang jumlah korban yang sebenarnya. Beberapa warga setempat menghadapi sanksi setelah membagikan angka korban yang berbeda dari yang dilaporkan oleh pemerintah China.
Laporan dari Bitter Winter mengungkapkan bahwa setidaknya 10 individu telah dijadikan contoh dalam operasi yang dikenal sebagai “Clean Internet 2026”. Mereka dihukum karena memposting perkiraan jumlah korban di platform media sosial yang tidak sesuai dengan angka resmi pemerintah.
Berdasarkan unggahan yang beredar, beberapa warga melaporkan jumlah korban yang jauh lebih tinggi daripada yang diumumkan. Salah satu pengguna bernama Qiu mengungkapkan bahwa berita menyebutkan 1.400 orang meninggal, sementara ia mendengar informasi bahwa 3.000 orang hilang akibat bencana tersebut.
Liu, seorang lainnya, memperkirakan lebih dari 3.000 orang kehilangan nyawa di wilayah Tibet. Tan juga menambahkan bahwa ribuan orang di Gyirong Port tewas dalam waktu singkat. Selain itu, Zhang melaporkan bahwa lebih dari 1.000 orang tersapu oleh banjir, termasuk pekerja, turis, dan pelintas yang juga jumlahnya lebih dari 1.000 orang.
Sementara itu, Pan menyebutkan bahwa lebih dari 1.000 orang mungkin sudah terkubur, sementara Yi memperkirakan sekitar 500 orang telah meninggal, dengan sebagian besar dari mereka yang hilang diperkirakan sudah tidak hidup. Zhou bahkan mengklaim mendengar bahwa puluhan ribu orang mungkin telah meninggal dan satu desa hilang sepenuhnya.
Guo memberikan perkiraan bahwa sedikitnya 1.000 korban berada di sisi Tibet, sementara yang lainnya melaporkan bahwa jumlah orang hilang mencapai 826 orang.
Pada tahap awal, angka resmi yang dirilis oleh pemerintah China jauh lebih rendah. Laporan mengenai operasi penertiban internet menyebutkan bahwa pemerintah hanya mengonfirmasi kurang dari 20 orang meninggal dan kurang dari 600 orang dinyatakan hilang.
Namun, angka tersebut kemudian diperbarui. Data terbaru dari pihak berwenang China menyebutkan bahwa 43 orang telah meninggal dan 519 orang masih hilang di sisi Tibet. Dari jumlah tersebut, 261 di antaranya merupakan warga asing yang berasal dari 23 negara.
Di sisi Nepal, dampaknya jauh lebih parah. Hingga 8 September, total korban di kedua negara telah mencapai sedikitnya 1.399 orang meninggal dan lebih dari 5.400 orang hilang.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa warga yang menyebarkan informasi yang berbeda dari data resmi dapat dikenakan sanksi berdasarkan Pasal 29 dari Undang-Undang Administrasi Keamanan Publik, yang memungkinkan penahanan selama hingga lima hari karena menyebarkan informasi yang tidak akurat.
Dalam situasi tertentu, mereka juga dapat dikenai Pasal 291-1 ayat 2 dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana China, yang mengancam hukuman penjara hingga tiga tahun bagi pelanggar.
➡️ Baca Juga: Kenangan Indah Sahabat tentang Vidi Aldiano, Sosok Ceria dan Tempat Curhat yang Terpercaya
➡️ Baca Juga: Sahroni Mendorong Polisi Tindak Tegas Pemasaran Meterai Palsu untuk Lindungi Kepercayaan Publik
