Iran Ancaman Terhadap Donald Trump: Waspadai Potensi Konsekuensi yang Serius

Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang mengandung nada ancaman kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pernyataan ini muncul setelah Trump mengancam akan mengambil tindakan militer yang signifikan jika Iran terus menutup Selat Hormuz.
Pada tanggal 10 Maret 2026, Trump menggunakan platform media sosialnya untuk menyatakan ancaman bahwa Amerika Serikat akan memberikan respons yang jauh lebih keras terhadap Iran, bahkan hingga 20 kali lipat dari tindakan yang telah dilakukan sebelumnya.
Dalam kicauannya, Trump menegaskan, “Amerika Serikat akan menghantam mereka dua puluh kali lebih keras dari apa yang telah mereka alami sejauh ini,” demikian kutipan yang dilansir dari laman Middle East Eye pada 11 Maret 2026.
Lebih lanjut, Trump juga menambahkan bahwa AS akan menghancurkan infrastruktur yang ada di Iran, sehingga negara tersebut akan kesulitan untuk membangun kembali kekuatannya setelah serangan.
Dia memperingatkan, “Kematian, api, dan kemarahan akan menimpa mereka, tetapi saya berharap dan berdoa agar hal itu tidak terjadi!”
Trump juga mencatat bahwa konsekuensi dari konflik ini akan memberikan keuntungan bagi China dan negara-negara lain yang bergantung pada jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menanggapi ancaman tersebut, Larijani tidak tinggal diam. Melalui akun media sosialnya, ia menegaskan bahwa rakyat Iran tidak gentar dengan ancaman yang dilontarkan oleh Trump. Ia bahkan memperingatkan bahwa Trump seharusnya waspada, agar tidak menjadi pihak yang mengalami kerugian.
“Rakyat Iran yang mencintai Ashura tidak takut pada ancaman kosongmu; bahkan yang lebih besar darimu sudah gagal menghapus kami… Jadi berhati-hatilah, jangan sampai justru kalian yang lenyap,” tulis Larijani.
Larijani kembali menegaskan posisi Iran mengenai situasi di kawasan Teluk, terutama terkait masa depan Selat Hormuz yang kini menjadi fokus perhatian global. Ia menyatakan bahwa nasib jalur pelayaran strategis tersebut sangat bergantung pada sikap negara-negara yang terlibat dalam konflik ini.
“Selat Hormuz bisa menjadi jalur perdamaian dan kemakmuran bagi semua pihak atau sebaliknya, menjadi jalur kekalahan dan penderitaan bagi mereka yang mengobarkan perang,” tambahnya.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam beberapa bahasa, termasuk Persia, Inggris, Rusia, Arab, Prancis, dan Mandarin, menunjukkan seriusnya posisi Iran dalam menghadapi situasi yang berkembang.
➡️ Baca Juga: Jaringan Prioritas Telkomsel dan Huawei Menang GLOMO Awards 2026 untuk Koneksi Konsisten dan Lancar
➡️ Baca Juga: Trump Lepaskan Tanggung Jawab dan Tuduh Iran Terkait Serangan Mematikan di Minab




